Klasifikasi Obat Kanker
Mekanisme Kerusakan Selular oleh Obat Kanker Modern. Sumber : Frontiers
Tujuannya adalah memicu kegagalan replikasi sehingga sel kanker mati.
Akibatnya : rambut rontok total, dinding lambung/usus tererosi parah (mual/muntah kronis), dan kerusakan sumsum tulang belakang yang memicu penurunan sel darah putih drastis (anemia dan risiko infeksi mematikan).
Secara Biofiska, kemoterapi mencoba membunuh sel yang bermutasi tanpa mengubah lingkungan makro yang memicu mutasi itu sendiri.
Jika sebuah area tubuh tetap mengalami kompresi fisik (terjepit/tertekan), pasokan oksigen di area tersebut akan tetap berada di bawah level normal setelah kemoterapi selesai.
Akibatnya, sel sehat yang tersisa dipaksa oleh hukum alam untuk bermutasi kembali (rekurensi/kanker kambuh).
Secara logika biofisika, mengunci saklar kimia di dalam sel tidak akan menyelesaikan masalah jika tekanan mekanis eksternal (penyempitan ruang jaringan) terus-menerus mengirimkan sinyal stres fisik ke sel tersebut.
Ketika jalur biokimia A diblokir oleh obat, sel yang tertekan secara fisik akan mencari jalur biokimia B atau C untuk bertahan hidup.
Inilah mengapa kasus resistensi obat terapi target sangat tinggi dalam waktu beberapa bulan/tahun. (Begitu mereka berhasil menemukan jalan pintas baru tersebut, obat utamanya langsung menjadi tidak mempan lagi. Itulah yang disebut dengan resistensi obat)
Sel kanker melepaskan VEGF dan membuat pembuluh darah baru justru karena area tersebut mengalami hipoksia akut akibat penyempitan struktur fisik makro.
Menghentikan angiogenesis secara kimiawi berarti semakin menurunkan kadar oksigen di area tersebut secara ekstrem.
Akibatnya, lingkungan mikro di sekitar tumor menjadi jauh lebih hipoksia dan lebih asam, dua kondisi yang seperti point sebelumnya, justru memicu sel kanker bermutasi menjadi jauh lebih agresif dan invasif untuk melarikan diri (metastasis).
Sistem imun yang terlalu aktif berbalik menyerang organ sehat tubuh sendiri, menyebabkan peradangan paru-paru mematikan (pneumonitis), peradangan usus besar (kolitis), dan kerusakan permanen pada kelenjar tiroid atau pankreas.
Secara Biofisika, molekul obat dan sel imun membutuhkan cairan tubuh (darah dan limfa) sebagai jalur transportasi untuk sampai ke lokasi tumor.
Jika struktur makro tubuh di area kanker tersebut mengalami distorsi, stagnasi, atau kompresi jaringan yang parah, maka secara fisik debit aliran fluida ke area tersebut sangat kecil.
Sel imun yang sudah diaktivasi oleh obat mahal sekalipun akan kesulitan menembus barikade fisik jaringan yang mengunci dan mengeras, membuat efektivitas obat ini sering kali tidak merata.
Mereka mengabaikan fakta keras bahwa tubuh manusia adalah sebuah mesin fisik tiga dimensi yang tunduk pada hukum tekanan, ruang, hidrodimanika, dan geometri.
Selama sruktur mekanis ruangnya tidak dikoreksi, manipulasi kimiawi sekecil apa pun di tingkat sel akan selalu menghasilkan efek samping sistemik yang merusak organ sehat lainnya.
📞 +60 11 2954 6391